Seminar PERPETAKI VII Perkuat Pendidikan Katolik dalam Membangun Peradaban Ekologis

Kefamenanu (stpsantopetruska.ac.id) – Perkumpulan Perguruan Tinggi Agama Katolik Indonesia (PERPETAKI) menggelar Seminar Ilmiah dalam rangka Hari Studi dan Rapat Umum Anggota (RUA) PERPETAKI VII di Aula Mgr. Sulama STP Santo Petrus Keuskupan Atambua, Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur, Jumat (16/10/2026). Mengusung tema “Membangun Peradaban Ekologis melalui Pendidikan Katolik untuk Indonesia Emas 2045” dan subtema “Lingkungan Membentuk Karakter Manusia”, kegiatan ini bertujuan memperkuat peran pendidikan Katolik dalam membentuk karakter dan kepedulian terhadap lingkungan.

Ketua STP Santo Petrus Keuskupan Atambua, Romo Philipus Benitius Metom, S.Ag., M.Hum., menyambut para peserta dan berharap seminar serta RUA PERPETAKI VII menghasilkan gagasan konstruktif bagi pengembangan lembaga pendidikan. Ia menegaskan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu berjalan seiring dengan pelestarian budaya, kepedulian terhadap alam, dan penguatan iman. Pendidikan di STP Santo Petrus sendiri memadukan pembelajaran akademik dengan pembinaan kehidupan rohani dan karakter mahasiswa.

Ketua PERPETAKI, Dr. Florens Maxi Un Bria, S.Ag., M.Sos., menekankan pentingnya kolaborasi ant perguruan tinggi Katolik dalam membangun kesadaran ekologis. Sejalan dengan ensiklik Laudato Si’ yang ditulis Paus Fransiskus, ia mengajak lembaga pendidikan memandang bumi sebagai rumah bersama dan mempersiapkan pendidik serta agen pastoral yang mampu menerapkan kepedulian lingkungan dalam tindakan nyata

Ketua PERPETAKI, Dr. Florens Maxi Un Bria, S.Ag., M.Sos membawakan sambutan, Jumat (16/10/2026).

Seminar menghadirkan Dr. Yohanes Bernando Seran, S.H., M.Hum., dan Drs. Yohanes Sanak, M.A., yang membahas hubungan lingkungan, budaya, dan pembentukan karakter manusia. Diskusi menyoroti peran keluarga, lembaga pendidikan, masyarakat, serta kearifan lokal Atoni Meto dalam membangun hubungan harmonis antara manusia dan alam. Tantangan seperti pembakaran lahan dan kerusakan akibat pertambangan emas ilegal turut menjadi perhatian.

Dr. Yohanes Bernando Seran, S.H., M.Hum., dan Drs. Yohanes Sanak, M.A saat membawakan materi seminar, Jumat (16/10/2026).

Hasil seminar merekomendasikan integrasi nilai-nilai ekologis ke dalam kurikulum perguruan tinggi pastoral dengan pendekatan berbasis ekosistem. Pendidikan dan pewarisan nilai antargenerasi, pembinaan kaum muda melalui kehidupan kampus dan asrama, serta penerapan semangat Laudato Si’ juga ditegaskan sebagai langkah membentuk lulusan yang berkarakter dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Dalam rangkaian RUA PERPETAKI VII, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik, A.M. Adiyarto Sumardjono, S.E., M.Hum., menyampaikan lima arahan strategis bagi pengembangan pendidikan tinggi Katolik. Pertama, penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) harus disertai etika dan integritas akademik, termasuk pencegahan plagiarisme serta penguatan mutu publikasi ilmiah. Kedua, perguruan tinggi perlu memperkuat tata kelola dan meningkatkan akreditasi institusi maupun program studi.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik, A.M. Adiyarto Sumardjono, S.E., M.Hum membawakan Sambutan dan Arahan.

Ketiga, pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi perlu diperkuat melalui kemitraan antarkampus yang menghasilkan manfaat nyata dalam penelitian, pertukaran pengetahuan, dan pengabdian kepada masyarakat. Keempat, nilai moderasi beragama, toleransi, dan cinta kemanusiaan perlu diintegrasikan dalam pendidikan untuk menghargai keberagaman dan menjunjung martabat manusia. Kelima, pengelolaan anggaran harus dilakukan secara transparan, akuntabel, dan berorientasi pada peningkatan mutu pelayanan.

Ia juga menyampaikan pesan Menteri Agama tentang pentingnya publikasi capaian lembaga, penguatan spiritualitas, serta transformasi perguruan tinggi agar semakin inovatif dan berdaya saing. Menurutnya, RUA PERPETAKI bukan sekadar agenda organisasi, melainkan ruang evaluasi dan penyelarasan strategi untuk menjawab tantangan pendidikan tinggi, perkembangan teknologi, serta tuntutan mutu nasional dan global.

Rangkaian kegiatan turut diisi dengan pemberkatan Gua Maria dan taman doa yang dipimpin Romo Kanisius Oki, Pr., sebagai bagian dari pembinaan rohani di lingkungan STP Santo Petrus.

Melalui seminar dan RUA PERPETAKI VII, perguruan tinggi Katolik diharapkan mampu mengintegrasikan iman, ilmu pengetahuan, budaya, dan kepedulian ekologis sekaligus memperkuat tata kelola serta kolaborasi antarlembaga. Upaya ini menjadi kontribusi nyata pendidikan Katolik dalam membangun peradaban ekologis menuju Indonesia Emas 2045. (DN)