
Kefamenanu (stpsantopetruska.ac.id) – Perkumpulan Perguruan Tinggi Agama Katolik Indonesia (PERPETAKI) resmi memiliki badan pengurus baru untuk periode 2026–2029. Pelantikan berlangsung dalam perayaan Ekaristi penutupan Hari Studi dan Rapat Umum Anggota (RUA) VII PERPETAKI yang dipimpin Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua, Pater Vinsensius Wun, SVD, di Gereja Santo Yohanes Pemandi Naesleu, Kefamenanu, Minggu (18/10/2026).

Pelantikan ini menjadi salah satu agenda utama penutupan kegiatan nasional yang mempertemukan para pimpinan perguruan tinggi agama Katolik dari berbagai wilayah Indonesia. Selain menandai pergantian kepemimpinan organisasi, momentum tersebut juga mempertegas komitmen PERPETAKI dalam memperkuat kolaborasi antarlembaga, meningkatkan mutu pendidikan, serta mengembangkan pendidikan Katolik yang berorientasi pada pembentukan manusia beriman, berkarakter, dan peduli terhadap lingkungan.
Perayaan Ekaristi dihadiri Pastor Paroki Naesleu, Rm. Gabriel Alos, Pr., bersama para imam konselebran, Ketua Yayasan Snuna, Rm. Gabriel Bouk, Ketua PERPETAKI, RD. Dr. Florens Maxi Un Bria, para pimpinan Sekolah Tinggi Pastoral se-Indonesia beserta pengurus, sivitas akademika STP Santo Petrus Keuskupan Atambua, dan umat Paroki Naesleu. Suasana liturgi semakin semarak melalui pelayanan paduan suara gabungan mahasiswa tingkat I hingga III STP Santo Petrus Keuskupan Atambua.
Dalam homilinya, Pater Vinsensius Wun menyampaikan apresiasi atas kehadiran para pimpinan perguruan tinggi agama Katolik dari berbagai daerah. Ia menilai perjumpaan tersebut sebagai kehormatan bagi Gereja lokal, khususnya umat Paroki Naesleu, karena dapat menerima para tokoh pendidikan Katolik dalam satu perayaan iman.
“Misa ini adalah suatu kehormatan besar bagi Keuskupan Atambua khususnya umat Paroki Naesleu, karena pada hari ini hadir di tengah-tengah kita orang-orang penting yang datang dari perguruan tinggi agama Katolik seluruh Indonesia,” ungkapnya.
Pengurus Baru PERPETAKI Periode 2026–2029 Dilantik
Prosesi pelantikan diawali dengan pembacaan berita acara hasil pemilihan oleh Dr. Anselmus Yata Mones, S.Fil., M.Pd., selaku panitia pemilihan. Pemilihan badan pengurus baru tersebut telah dilaksanakan di Hotel Livero, Kefamenanu, pada Jumat (17/10/2026), sebagai bagian dari agenda Rapat Umum Anggota PERPETAKI.
Selanjutnya, Dewan Pembina PERPETAKI, Dr. Drs. Paulus Setyo Istandar Tan, BA, M.Th., dari STPK Santo Yohanes Rasul Jayapura, melantik badan pengurus terpilih untuk menjalankan kepemimpinan organisasi selama tiga tahun ke depan.
Adapun susunan badan pengurus PERPETAKI periode 2026–2029 yang dilantik adalah sebagai berikut:
- Ketua: Dr. Florens Maxi Un Bria, S.Ag., M.Sos., dari STIPAS Keuskupan Agung Kupang.
- Sekretaris: Dr. Sunarso, S.T., M.Eng., dari STAKAT Negeri Pontianak.
- Bendahara: Dr. Agustinus Sem Porak, M.Hum., dari STIKPAR Toraja.
- Anggota: Dr. Dominikus Doni Ola dari STP Dian Mandala Gunungsitoli, Nias.
- Anggota: Philipus Benitius Metom, S.Ag., M.Hum., dari STP Santo Petrus Keuskupan Atambua.
Kepengurusan yang baru diharapkan mampu melanjutkan dan memperkuat kerja sama antarperguruan tinggi agama Katolik di Indonesia. Tanggung jawab tersebut mencakup pengembangan mutu akademik, penguatan tata kelola kelembagaan, serta peningkatan peran pendidikan Katolik dalam menjawab tantangan sosial, kemanusiaan, dan lingkungan.

Rangkaian penutupan juga diisi dengan sambutan Ketua STP Santo Petrus Keuskupan Atambua, Ketua PERPETAKI terpilih, dan Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua. Kehadiran para pimpinan Gereja dan lembaga pendidikan dalam kegiatan ini memperlihatkan dukungan terhadap keberlanjutan kerja sama pendidikan Katolik di tingkat nasional.
Pendidikan Katolik dan Tanggung Jawab Ekologis
Hari Studi dan RUA VII PERPETAKI berlangsung sejak Kamis (15/10/2026), diawali dengan penjemputan peserta dan perayaan Ekaristi pembukaan di Gereja Santo Antonius Padua Sasi, Kefamenanu. Kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan seminar ilmiah pada Jumat (16/10/2026) di Aula Mgr. Sulama, STP Santo Petrus Keuskupan Atambua.
Seminar mengangkat tema “Membangun Peradaban Ekologis melalui Pendidikan Katolik untuk Indonesia Emas 2045”. Tema ini menegaskan pentingnya pendidikan Katolik dalam membentuk pribadi yang beriman, berkarakter, memiliki kepedulian terhadap lingkungan, serta mampu membangun relasi yang bertanggung jawab dengan alam dan sesama.
Melalui forum ilmiah tersebut, perguruan tinggi agama Katolik didorong untuk tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan pengajaran, tetapi juga berkontribusi dalam membangun kesadaran ekologis melalui pembentukan karakter, pengembangan pengetahuan, dan praktik kehidupan yang menghargai keberlanjutan lingkungan.
Setelah seminar, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan peresmian dan pemberkatan Gua Santa Maria Fatima di lingkungan kampus STP Santo Petrus Keuskupan Atambua. Pada malam harinya, para anggota PERPETAKI mengikuti Rapat Umum Anggota di Hotel Livero, Kefamenanu, yang menjadi forum pembahasan organisasi sekaligus pemilihan badan pengurus untuk periode berikutnya.
Pelaksanaan seluruh rangkaian kegiatan nasional ini mendapat dukungan dari Uskup Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr., Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik, A.M. Adiyarto Sumardjono, S.E., M.Hum., serta anggota PERPETAKI.
Memperkuat Sinergi Menuju Indonesia Emas 2045
Penutupan Hari Studi dan RUA VII PERPETAKI di Kefamenanu menjadi momentum untuk memperbarui komitmen bersama dalam memajukan pendidikan Katolik di Indonesia. Pelantikan pengurus baru tidak hanya menjadi bagian dari mekanisme organisasi, tetapi juga membuka babak baru bagi penguatan sinergi antarperguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan Gereja dan masyarakat.
Melalui kepemimpinan periode 2026–2029, PERPETAKI diharapkan semakin berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan, membentuk generasi yang beriman dan berintegritas, serta menumbuhkan kepedulian terhadap persoalan lingkungan dan kemanusiaan.
Dari Kefamenanu, semangat kolaborasi yang terbangun selama Hari Studi dan RUA VII diharapkan terus berlanjut dalam program nyata di setiap perguruan tinggi anggota. Dengan demikian, pendidikan Katolik dapat memberikan kontribusi berkelanjutan bagi pembentukan sumber daya manusia yang unggul sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045. (DN)