
Kefamenanu (stpsantopetruska.ac.id) – Hari Studi dan Rapat Umum Perkumpulan Perguruan Tinggi Agama Katolik di Indonesia (PERPETAKI) VII resmi memulai rangkaian kegiatannya pada Kamis, 15 Oktober 2026, melalui Misa Pembukaan di Gereja St. Antonius Padua, Sasi, Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Kegiatan yang melibatkan 23 perguruan tinggi agama Katolik dari berbagai wilayah di Indonesia ini mengusung tema “Membangun Peradaban Ekologis melalui Pendidikan Katolik untuk Indonesia Emas 2045”.
Misa pembukaan dan rangkaian sambutan menjadi momentum untuk meneguhkan peran pendidikan Katolik dalam membangun kesadaran ekologis, membentuk karakter generasi muda, serta mendorong pembangunan berkelanjutan yang berlandaskan nilai-nilai iman. Kegiatan ini juga menjadi ruang perjumpaan bagi para pimpinan perguruan tinggi agama Katolik untuk memperkuat komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi keagamaan di Indonesia.
Dalam sambutan pemerintah daerah, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten TTU, Drs. Kristoforus Ukat, M.M., hadir mewakili Bupati TTU yang berhalangan hadir. Ia menyampaikan sambutan hangat kepada para pimpinan perguruan tinggi Katolik yang mengikuti kegiatan tersebut.
Kristoforus Ukat menekankan pentingnya pendidikan ekologis dalam menghadapi kerusakan lingkungan yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, khususnya petani dan peternak. Persoalan lingkungan, menurutnya, tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan masyarakat sehingga membutuhkan perhatian dan keterlibatan berbagai pihak.
Ia juga mendorong penguatan sinergi pentahelix yang melibatkan pemerintah, Gereja, akademisi, masyarakat, dan dunia usaha. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi serta program konkret untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan menjawab tantangan lingkungan hidup.
Sementara itu, Ketua PERPETAKI, Dr. Florens Maxi Un Bria, S.Ag., M.Sos., menegaskan bahwa pendidikan merupakan gerbang utama dan kunci dalam mengubah peradaban manusia. Pendidikan tidak hanya berfungsi untuk mengembangkan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan menanamkan kesadaran ekologis sebagai dasar bagi terciptanya kehidupan yang berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Santo Petrus Atambua serta meneguhkan komitmen bersama seluruh sivitas akademika untuk terus memajukan kualitas pendidikan tinggi keagamaan Katolik di Indonesia. Melalui PERPETAKI, perguruan tinggi diharapkan semakin memperkuat kerja sama dan mengambil bagian aktif dalam menjawab tantangan sosial, pendidikan, dan lingkungan hidup.
Uskup Keuskupan Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr., turut memberikan sambutan dengan menekankan pentingnya pendidikan dalam membentuk peradaban manusia yang lebih baik. Pendidikan Katolik diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman iman, integritas moral, kepedulian terhadap sesama, dan tanggung jawab terhadap seluruh ciptaan Tuhan.
Pesan tersebut sejalan dengan tema PERPETAKI VII yang menempatkan kepedulian ekologis sebagai bagian penting dari pendidikan dan penghayatan iman Katolik. Menjaga kelestarian alam bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga tanggung jawab moral dan spiritual yang perlu diwujudkan melalui sikap serta tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kerusakan lingkungan akibat perilaku manusia yang berorientasi pada kepentingan jangka pendek menjadi tantangan yang perlu direspons melalui pendidikan. Pencemaran, penggunaan bahan kimia secara berlebihan, dan perusakan ekosistem menunjukkan pentingnya perubahan pola pikir menuju kehidupan yang lebih bijaksana dan bertanggung jawab terhadap alam.
Dalam konteks ini, perguruan tinggi agama Katolik memiliki peran strategis untuk mengintegrasikan nilai-nilai ekologis ke dalam pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pembinaan karakter mahasiswa. Dengan demikian, pendidikan Katolik dapat menjadi salah satu penggerak transformasi moral dan sosial dalam membangun masyarakat yang semakin peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.
Setelah rangkaian Misa Pembukaan dan sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan makan malam dan istirahat. Rangkaian Hari Studi dan Rapat Umum PERPETAKI VII selanjutnya dijadwalkan berlangsung pada 16–18 Oktober 2026 melalui agenda tersendiri.
Melalui penyelenggaraan PERPETAKI VII, diharapkan terbangun komitmen yang semakin kuat di antara perguruan tinggi agama Katolik untuk menghadirkan pendidikan yang berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya, penguatan kepedulian ekologis, dan pelayanan kepada masyarakat. Upaya tersebut menjadi bagian dari kontribusi pendidikan Katolik dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 yang berkeadilan, sejahtera, dan berkelanjutan. (DN)