Ketika Seorang Pewarta Pulang kepada Sang Sabda

Ada orang-orang yang kehadirannya terasa begitu kuat, bukan karena mereka berusaha menjadi besar, terkenal dimana-mana, melainkan karena melalui hidup mereka, kita melihat sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Demikianlah sosok RD Yallo, Pr seorang imam Tuhan yang telah berpulang ke pangkuan Bapa di surga. Ia mungkin dikenal sebagai sosok nomor satu yang hebat dalam hal apa pun, atau dengan julukan multi talenta. Kata-katanya mampu menyentuh hati, pikirannya mampu membuka wawasan, dan pewartaannya sering kali membuat orang kembali merenungkan iman serta arah hidupnya. Ia memiliki kemampuan untuk berbicara tentang kemahakuasaan Tuhan dengan begitu lantang dan indah. Namun, mungkin justru bukan kehebatan kotbahnya yang paling akan kita rindukan, melainkan kerendahan hatinya yang takkan lagi kita dapattkan.

Aku mengenalnya dari dekat, tetapi belum seberapa. Dari mimbar altar, ia telah membawaku pulang sebentar kepada diriku sendiri. Ada pertanyaan yang sempat menggangguku; Mengapa bukan orang-orang berdosa yang tidak Tuhan ambil saja? Dan mengapa harus dirinya juga yang Tuhan ambil begitu cepat tanpa kompromi terlebih dahulu? Sementara banyak sekali misi frontil yang sangat membutuhkan kehadiran imam-iman Tuhan untuk pelayanan. Aku hanya bisa menyimpan semuanya dalam hati tanpa banyak bertele-tele lagi, “Fiat Voluntas Tua, jadilah kehendak-Mu”

Di tengah kemampuannya yang begitu besar, ia tidak menjadikan dirinya pusat perhatian. Ia tidak membiarkan pujian dari umat, para folowers di tiktok, facebook, intagram dan media sosial lainnya membuatnya lupa bahwa dirinya hanyalah seorang pelayan  di atas altar Tuhan. Ia tahu bahwa seorang imam bukanlah pemilik Sabda, melainkan orang yang dipanggil untuk menyuarakan Sabda. Bukan dirinya yang harus diingat, tetapi Kristus yang ia wartakan. Dan kini suara hamba kesayanganNya telah menjadi hening di antara sunyi yang sakral.

Mungkin bagi kita, kepergiannya terasa seperti kehilangan sebuah suara yang begitu berarti. Kita kehilangan seorang pewarta, seorang anak, seorang  imam, seorang guru, dan mungkin juga seorang sahabat dalam perjalanan iman. Tetapi bagi Allah, barangkali inilah saat ketika seorang pelayanyang setia akhirnya boleh berhenti berbicara tentang surge dan mulai memandangnya dengan mata sendiri. Ada keindahan yang dalam dalam kematiannya. Ia pernah berbicara tentang kasih Allah-kini ia telah berada di dalam pelukan kasih itu. Ia pernah berbicara tentang kehidupan kekal-kini ia menantikan kepenuhannya dalam Tuhan. Ia pernah mengajak kita untuk tidak takut menghadapi kematian-kini hidupnya menjadi kesaksian terakhir bahwa seorang yang percaya kepada Kristus tidak sunggunh-sungguh kehilangan hidupnya, melainkan menyerahkannya kembali kepada Sang Pemberi kehidupan.

Dari kisah Imam Tuhan ini dan di tengah situasi duka ini saya menemukan satu hal yang dapat kita pelajari dari kepergiannya: Kehebatan tidak selalu terletak pada seberapa banyak orang mengagumi kita, tetapi pada seberapa tulus kita mengarahkan orang kepada Tuhan. Setelah kepergiannya ini, mungkin kotbah-kotbahnya suatu hari akan terlupakan. Kalimat-kalimat indah yang pernah diucapkannya perlahan memudar dari ingatan. Tetapi kesetiaan, pengorbanan, kesederhanaan, kebaikan, kerendahan hati,  dan cara hidupnya sebagai seorang  imam akan tetap tinggal dan hidup di hati mereka yang  pernah berjumpa atau sekedar mengenalnya dari jauh. Ia telah menyelesaikan peziarahannya. Ia tidak lagi berdiri di mimbar dengan jubah kebesarannya untuk merayakan ekaristi dan berkotbah, tetapi mungkin dari keheningan kepergiannya, ia justru menyampaikan homily terakhirnya: Bahwa hidup adalah   anugerah. Bahwa pelayanan adalah panggilan. Bahwa kerendahan hati adalah jalan. Dan bahwa pada akhirnya, segala sesuatu akan kembali kapada Tuhan. 

Terima kasih Romo karena pernah menjadi suara bagi Sabda, tangan bagi pelayan, dan hati bagi banyak orang. Selamat beristirahat dalam damai.csemoga Tuhan menerima seluruh hidup dan pelayananmu sebagai persembahan yang harum di hadapan-Nya. Dan semoga kini engkau menikmati kepenuhan kasih Allah sepanjang hidup telah engkau wartakan. Kuiringi kepergianmu dengan seutai doa Rosario, semoga untaian-untaian doa salam Maria mengiringi langkahmu sampai di hadapan Takhta-Nya yang empunya segala cinta.

Lena Salu

Sekatak-Kalimantan Utara