
Sekatak, stpsantopetruska.ac.id – Mahasiswi Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Santo Petrus Keuskupan Atambua, Maria Magdalena Salu, resmi memulai hari pertama Praktik Pengenalan Lapangan (PPL) di SDN 007 Sekatak pada Senin, 20 Juli 2026. Kegiatan PPL ini akan berlangsung selama kurang lebih enam bulan sebagai bagian dari program Magang III yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa semester VII.
Penempatan mahasiswa PPL di SDN 007 Sekatak merupakan bagian dari kebijakan Uskup Tanjung Selor, Mgr. Paulinus Yan Olla, MSF, yang mempercayakan pelaksanaan PPL kepada sekolah-sekolah mitra di wilayah Keuskupan Tanjung Selor. Selain menjalankan tugas mengajar di sekolah, mahasiswa juga akan terlibat dalam berbagai kegiatan pastoral di paroki, lingkungan, dan Komunitas Umat Basis (KUB) sebagai bagian dari proses pembentukan calon guru Pendidikan Agama Katolik dan katekis.
Pada hari pertama kegiatan, Kepala SDN 007 Sekatak, Kornian, S.Pd.SD, menyampaikan apresiasi atas kehadiran kembali mahasiswa STP Santo Petrus Keuskupan Atambua di sekolahnya. Ia menyambut baik pelaksanaan PPL selama satu semester karena dinilai dapat membantu memenuhi kebutuhan tenaga pendidik sekaligus memberikan pendampingan yang lebih optimal kepada para peserta didik dalam proses belajar mengajar.
“Selamat datang kepada mahasiswa STP Santo Petrus Keuskupan Atambua. Kehadiran mahasiswa PPL sangat membantu sekolah, terutama dalam mendukung proses pembelajaran karena jumlah tenaga guru yang masih terbatas,” ungkap Kornian.
Hal senada disampaikan oleh Yohanes Nong Dance, S.Pd., yang ditunjuk sebagai guru pamong. Ia menyatakan kesiapannya untuk mendampingi dan membimbing mahasiswa selama menjalankan PPL di SDN 007 Sekatak agar memperoleh pengalaman mengajar yang maksimal.
Sementara itu, Maria Magdalena Salu mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan menjalani PPL di Sekatak. Menurutnya, penugasan ini merupakan bagian dari panggilan untuk hadir dan melayani anak-anak yang membutuhkan pendampingan dalam proses belajar.
Ia mengakui bahwa kondisi geografis dan medan yang cukup menantang bukanlah hambatan dalam menjalankan tugas pelayanan. Sebaliknya, pengalaman berjalan kaki bersama para siswa melewati medan yang sulit menjadi pengalaman berharga yang akan selalu dikenang sebagai bagian dari perjalanan panggilan dan semangat misioner.
“Bagi saya, berada di tengah anak-anak yang membutuhkan pendampingan adalah sebuah panggilan. Medan yang menantang bukan menjadi penghalang, tetapi bagian dari proses pembelajaran yang patut disyukuri. Setiap langkah bersama anak-anak menjadi pengalaman misi yang sangat berarti,” tuturnya.
Praktik Pengenalan Lapangan merupakan salah satu tahapan penting dalam proses pendidikan di STP Santo Petrus Keuskupan Atambua. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mengembangkan kompetensi pedagogis sebagai calon guru Pendidikan Agama Katolik, tetapi juga memperdalam pengalaman pastoral melalui pelayanan nyata di sekolah, paroki, lingkungan, dan Komunitas Umat Basis. Diharapkan, seluruh mahasiswa mampu memanfaatkan masa PPL dengan penuh tanggung jawab, semangat melayani, dan dedikasi hingga seluruh rangkaian kegiatan berakhir. (MMS)