
Kefamenanu, stpsantopetruska.ac.id– Rangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Santo Petrus Keuskupan Atambua resmi berakhir. Hari terakhir kegiatan diisi dengan sejumlah agenda yang memadukan aktivitas fisik, pembinaan iman, refleksi, serta prosesi penutupan sebagai tanda dimulainya perjalanan akademik mahasiswa baru di lingkungan kampus.
Rangkaian kegiatan pada hari terakhir diawali dengan loppas bersama antara panitia dan seluruh peserta PKKMB. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa baru untuk membangun kebersamaan, menjaga kebugaran, sekaligus menciptakan suasana yang lebih akrab setelah mengikuti berbagai rangkaian pembinaan selama pelaksanaan PKKMB.
Usai kegiatan fisik, seluruh mahasiswa baru mengikuti Misa Kudus sebagai ungkapan syukur atas terselenggaranya seluruh rangkaian PKKMB. Perayaan Ekaristi menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut karena proses pengenalan kehidupan kampus di STP Santo Petrus tidak hanya diarahkan pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan kehidupan iman dan spiritualitas mahasiswa.
Selama mengikuti rangkaian PKKMB, para mahasiswa baru memperoleh berbagai pengalaman yang memberikan kesan tersendiri. Salah seorang mahasiswa baru mengungkapkan bahwa pada awal kegiatan dirinya sempat merasa khawatir karena belum mengetahui apa yang akan dihadapi selama PKKMB.
“Jujur, awal sebelum ospek mulai saya merasa sangat takut karena tidak tahu apa yang bakal terjadi nanti. Tapi setelah dijalani sampai akhir, rasanya senang sekali karena bisa kenal banyak teman baru, belajar saling menghargai, dan melatih kerja sama tim.”
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa PKKMB tidak hanya menjadi proses pengenalan lingkungan kampus, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk belajar membangun relasi, mengembangkan kerja sama, meningkatkan kedisiplinan, serta beradaptasi dengan lingkungan pendidikan yang baru.
Setelah mengikuti sejumlah agenda sesuai jadwal yang telah ditetapkan panitia, seluruh rangkaian kegiatan kemudian memasuki acara inti pada sore hari. Upacara bendera yang dilaksanakan pada pukul 18.00 WITA menjadi bagian dari prosesi penutupan sekaligus simbol dimulainya babak baru bagi mahasiswa baru sebagai bagian dari keluarga besar STP Santo Petrus Keuskupan Atambua.
Dalam amanat penutupan, Ketua STP Santo Petrus Keuskupan Atambua, Romo Dr. Theodorus Asa Siri, S.Ag., menyoroti makna filosofis api unggun yang menjadi salah satu simbol dalam rangkaian PKKMB.
“Api unggun ini merupakan simbol yang menggambarkan proses pembakaran dan pemurnian segala sesuatu yang ada dalam diri mahasiswa. Sebanyak 203 mahasiswa baru ini akan menjalani proses pembentukan tersebut selama menempuh pendidikan di STP St. Petrus. Api ini menjadi semangat untuk membakar hal-hal yang tidak baik dalam diri serta membentuk pribadi yang lebih matang, bertanggung jawab, dan siap menjalankan tugas perutusan.”
Menurut Romo Theo, proses pembentukan mahasiswa tidak berhenti setelah PKKMB berakhir. Masa pengenalan kampus hanyalah langkah awal dari perjalanan panjang pendidikan yang akan dijalani mahasiswa hingga menyelesaikan seluruh proses perkuliahan, termasuk sampai Semester VIII.
Karena itu, mahasiswa baru diharapkan mampu menjaga semangat yang telah dibangun selama PKKMB dan terus membuka diri terhadap proses pembelajaran serta pembinaan yang akan mereka jalani selama berada di STP Santo Petrus. Pengetahuan, iman, karakter, kedisiplinan, dan semangat pelayanan perlu dikembangkan secara berkelanjutan agar mahasiswa mampu menjadi pribadi yang matang dan bertanggung jawab.
Berakhirnya rangkaian PKKMB melalui upacara bendera bukanlah akhir dari proses pembentukan, melainkan menjadi awal perjalanan akademik dan pembinaan mahasiswa baru. Dengan bekal pengalaman selama PKKMB, para mahasiswa diharapkan memasuki kehidupan perkuliahan dengan integritas, keterbukaan hati, semangat belajar, serta kesediaan untuk terus bertumbuh.
Pada akhirnya, seluruh proses pendidikan di STP Santo Petrus Keuskupan Atambua diarahkan untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi pribadi yang berilmu, beriman, berkarakter, dan siap diutus untuk melayani Gereja dan masyarakat. Dengan demikian, nyala api yang menjadi simbol dalam PKKMB diharapkan tetap hidup dalam diri setiap mahasiswa hingga mereka menyelesaikan pendidikan dan menjalankan tugas perutusan di tengah umat. (OT)