
Sambaliung, stpsantopetruska.ac.id – SMP Negeri 6 Sambaliung kembali melaksanakan kegiatan Jumat Rohani (Juro) pada Jumat, 7 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung pukul 07.30–08.30 WITA ini diikuti oleh seluruh peserta didik dan guru sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing.
Jumat Rohani merupakan salah satu program rutin sekolah yang dilaksanakan pada Jumat pertama setiap awal bulan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya SMP Negeri 6 Sambaliung dalam membangun karakter peserta didik secara utuh, tidak hanya melalui pencapaian akademik, tetapi juga melalui pembinaan iman, moral, spiritual, sosial, dan emosional.
Melalui kegiatan tersebut, peserta didik diarahkan untuk semakin menghayati nilai-nilai keagamaan, memperkuat iman dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta membangun sikap dan perilaku yang mencerminkan akhlak mulia. Pembinaan rohani juga menjadi ruang bagi peserta didik untuk belajar menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Pembinaan Berlangsung Sesuai Agama dan Keyakinan
Salah satu hal yang menarik dalam pelaksanaan Jumat Rohani di SMP Negeri 6 Sambaliung adalah kegiatan dilaksanakan secara bersamaan dalam kelompok pembinaan sesuai agama masing-masing. Peserta didik memperoleh pendampingan dari guru Pendidikan Agama Islam, Kristen Protestan, dan Katolik.
Pola pembinaan tersebut sekaligus mencerminkan komitmen sekolah dalam menghargai keberagaman agama. Peserta didik tidak hanya dibentuk untuk memiliki iman yang kuat, tetapi juga diajak untuk mengembangkan sikap toleransi, saling menghormati, dan hidup berdampingan secara harmonis di tengah keberagaman.
Selama kegiatan berlangsung, peserta didik mengikuti pembinaan dengan tertib dan penuh antusias. Suasana khidmat tampak di ruang pembinaan masing-masing. Sekolah juga telah menyediakan fasilitas pendukung, seperti musala bagi peserta didik Muslim serta ruang pembinaan bagi peserta didik Kristen Protestan dan Katolik.
Kepala SMP Negeri 6 Sambaliung, Irwan, S.T., M.Pd., menjelaskan bahwa Jumat Rohani merupakan bagian penting dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki fondasi spiritual dan karakter yang kuat.
Menurutnya, pendidikan harus mampu membentuk pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus memiliki sikap hormat kepada orang tua, guru, sesama, dan lingkungan masyarakat.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan nilai-nilai seperti rasa syukur, empati, tanggung jawab, kepedulian sosial, serta sikap saling menghargai dalam kehidupan peserta didik.
Tiga Tradisi Pembinaan Iman
Dalam pelaksanaannya, setiap kelompok agama memiliki bentuk kegiatan yang disesuaikan dengan ajaran dan tradisi masing-masing.
Pada kelompok Pendidikan Agama Islam, kegiatan didampingi oleh Marola, S.Pd. Pembinaan diarahkan untuk meningkatkan ketakwaan peserta didik kepada Allah Swt. Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain salat sunah, salat Duha, membaca Al-Qur’an, serta mendengarkan khotbah. Nilai-nilai yang diperoleh selama pembinaan diharapkan tidak berhenti pada pemahaman, tetapi diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
Sementara itu, pembinaan Pendidikan Agama Kristen Protestan didampingi oleh Yuli Lembang, S.PAK. Kegiatan diarahkan untuk menumbuhkan iman peserta didik kepada Yesus Kristus sekaligus membentuk karakter yang setia, bertanggung jawab, percaya diri, dan mampu menjadi teladan di sekolah, gereja, maupun masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, peserta didik mengikuti ibadat dengan khidmat, membawa Alkitab, membaca dan memahami bacaan Kitab Suci, serta diberi kesempatan untuk tampil di depan dan menyampaikan isi bacaan yang telah dipelajari. Proses tersebut menjadi bagian dari pembinaan iman sekaligus melatih keberanian dan kemampuan peserta didik dalam menyampaikan pemahaman mereka.
Adapun pembinaan Pendidikan Agama Katolik didampingi oleh Hironimus Jelahu, S.Pd. Kegiatan diarahkan pada pendalaman iman, pembinaan moral, serta pengembangan tanggung jawab dan kepedulian peserta didik terhadap sesama.
Pendalaman iman dilakukan melalui katekese, doa dan nyanyian, membaca Kitab Suci bersama, serta berbagi pengalaman hidup. Melalui metode tersebut, peserta didik tidak hanya diajak memahami ajaran iman secara teoritis, tetapi juga menghubungkannya dengan pengalaman konkret dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pelaksanaan pembinaan Pendidikan Agama Katolik, mahasiswa Program Pengalaman Lapangan (PPL), Agustinus Tarano Sasi, turut terlibat. Atas kepercayaan guru pamong, mahasiswa PPL membantu mempersiapkan dan memimpin kegiatan sebagai bagian dari pengalaman praktik mengajar dan pembelajaran pastoral di lingkungan sekolah.

Membentuk Karakter Melalui Pembiasaan
Pelaksanaan Jumat Rohani menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak cukup hanya dilakukan melalui penyampaian materi di dalam kelas. Pembentukan karakter membutuhkan proses pembiasaan, keteladanan, pendampingan, dan pengalaman nyata yang dilakukan secara konsisten.
Melalui kegiatan Jumat Rohani, peserta didik memperoleh ruang untuk mempraktikkan nilai-nilai religius dalam suasana kehidupan sekolah. Mereka belajar berdoa, beribadah, membaca Kitab Suci, mendengarkan firman atau khotbah, berbagi pengalaman, serta mengembangkan sikap disiplin dan tanggung jawab.
Kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk membangun budaya sekolah yang menghargai keberagaman. Meskipun peserta didik menjalani pembinaan berdasarkan agama masing-masing, seluruh proses berlangsung dalam semangat kebersamaan dan saling menghormati.
Dengan demikian, Jumat Rohani tidak hanya menjadi kegiatan rutin setiap bulan, tetapi menjadi bagian dari proses pendidikan yang mengintegrasikan dimensi intelektual, spiritual, moral, dan sosial. Melalui pembinaan yang berkelanjutan, SMP Negeri 6 Sambaliung berupaya membentuk generasi yang beriman, berkarakter, bertanggung jawab, toleran, dan siap memberikan kontribusi positif bagi keluarga, sekolah, Gereja, masyarakat, dan bangsa.